Tampilkan postingan dengan label PKKWU Kelas 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKKWU Kelas 11. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2022

 

Proses Pengujian Produk Baru
Pengujian produk baru bertujuan untuk memberikan penilaian yang lebih rinci tentang
peluang sukses produk baru, mengidentifikasi berbagai penyesuaian akhir yang diperlukan
untuk produk, dan menetapkan berbagai elemen penting dalam program pemasaran yang akan
dipakai untuk memperkenalkan produk dipasar. Secara umum, terdapat 4 (empat) kegiatan
dalam pengujian produk baru, yaitu sebagai berikut.
Proses pengujian produk merupakan tahap ke 3 (tiga) dalam proses pengembangan
produk baru. Macam-macam pengujian di antaranya ada 4 (empat, yaitu :
1.     Technical Testing (Pengujian Teknis)
Yaitu dengan cara membuat prototipe yang merupakan approximation (perkiraan) produk
akhir. Pengujian atas kinerja produk prototipe dapat menghasilkan sejumlah informasi
penting tentang product shelf life (usia pajang produk), tingkat keusangan produk,
masalah yang timbul dari pemakaian atau konsumsi yang tidak seharusnya, potensi
kerusakan yang memerlukan penggantian, dan jadwal pemeliharaan yang tepat. Masing
masing dari jenis informasi tersebut dapat mempunyai dampak biaya terhadap pemasaran
produk. Contohnya seperti estimasi usia panjang produk bisa berpengaruh terhadap
frekuensi dan biaya pengiriman. Lalu kemungkinan adanya masalah penggunaan yang
signifikan dapat mengakibatkan perlunya tambahan informasi labeling, periklanan, dan
sebagainya.
2.     Pengujian Preference and Satisfaction Testing (Preferensi dan Kepuasan)
Dipakai untuk menetapkan elemen-elemen yang akan dirancang dalam rencana
pemasaran serta untuk membuat tafsiran penjualan awal produk baru. Secara umum
terdapat dua cara utama yang dibutuhkan dalam tipe pengujian ini, yaitu pertama meminta
konsumen untuk menggunakan sebuah produk selama jangka waktu tertentu, dan
kemudian mereka diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan
dengan preferensi serta kepuasan mereka. Kedua, melaksanakan "blind test" yang
sedemikian rupa sehingga konsumen dapat membandingkan berbagai macam alternatif
produk tanpa mengetahui nama merek atau produsennya.
Pada dasamya, pengujian preferensi dan kepuasan akan memberikan sejumlah manfaat
pokok, antara lain sebagai berikut :
a.       Uji preferensi aktual dan uji teknis bisa memberikan dasar klaim yang obyektif untuk
keperluan promosi, terlebih apabila perusahaan ingin menyajikan superioritas dalam hal persepsi konsumen atas keunggulan spesifik pada produk perusahaan dari pada
pesaing.
b.       Estimasi tingkat pembelian ulang sangat penting untuk memperkirakan pangsa pasar
jangka panjang. Oleh karena itu hasil yang kurang bagus pada uji ini dapat berakibat
pada pembatalan peluncuran produk maupun perancangan ulang produk baru.
c.       Meskipun penerimaan pasar atas produk baru ditentukan oleh semua elemen program
pemasaran, tetapi berbagai kasus menunjukkan bahwa skor yang tinggi dalam
dimensi kinerja produk menggambarkan bahwa ide produk yang bersangkutan
sebaiknya dilanjutkan pada tahap pengembangan produk baru selanjutnya.
d.       Uji preferensi pada umumnya dapat memberikan signal awal terbaik terhadap
kemungkinan terjadinya kanibalisasi produk.
3.     Simulated Test Markets atau Laboratory Test Markets (Pengujian Pasar Simulasi)
Prosedur riset pemasaran yang dibuat untuk memberikan gambaran yang murah dan cepat
tentang pangsa pasar yang bisa diharapkan dari produk baru. Beberapa model yang dapat
dipakai antara lain BASES, DESIGNOR, ASSESSOR, dan LITMUS
4.     Test Markets (Pengujian Pasar)
Yaitu perusahaan akan menawarkan sebuah produk untuk dijual diwilayah pasar terbatas
yang sebisa mungkin dapat mewakili keseluruhan pasar dimana produk itu nantinya akan
dijual. Secara prinsip, terdapat perbedaan yang signifikan antara metode pengujian pasar
untuk produk konsumen dan produk bisnis/industrial. Didalam pengujian produk
konsumen, perusahaan akan berusaha mengestimasi empat variabel, yakni product trial
(percobaan produk), first repeat (pengulangan pembelian pertama), adopsi produk, serta
frekuensi pembelian. Tentunya perusahaan menginginkan bahwa semua variabel-variabel
tersebut menunjukkan tingkat yang tinggi.
Metode pokok untuk menguji pasar produk konsumen, adalah sebagai berikut :
a.       Sales Wave Research
Dalam metode sales wave research, konsumen yang pada awalnya mencoba sebuah
produk secara gratis ditawarka lagi produk tersebut atau produk pesaing, dengan
harga yang lebih murah. Kemudian perusahaan akan memperhatikan berapa kali
konsumen memilih produk perusahaan serta tingkat kepuasan mereka. Metode ini
juga mencakup usaha untuk mempresentasikan pada konsumen satu ataupun
beberapa konsep iklan dalam bentuk kasar untuk mengamati dampaknya terhadap
pembelian ulang
b.       Simulated Test Marketing
Metode ini memerlukan 30 sampai 40 pembeli yang qualified dipusat pertokoan ataupun tempat-tempat lainnya. Perusahaan akan menanyakan beberapa hal kepada mereka, berhubungan dengan awareness dan preferensi mereka terhadap berbagai merek pada jenis produk tertentu. Mereka bisa saja diundang untuk menyaksikan iklan singkat, termasuk didalamnya yang sudah terkenal ataupun yang masih baru. Lalu dalam penayangan iklan tersebut disisipkan iklan produk baru. Kemudian konsumen akan diberi sejumlah uang lalu diminta untuk datang ke sebuah toko khusus dimana mereka bisa membelanjakan uang yang sudah diberikan tersebut sesuai kebutuhan. Perusahaan lalu mengamati dan memperhatikan jumlah konsumen yang membeli merek baru dan merek pesaing. Data ini akan memberikan gambaran tentang efektivitas iklan mereka atas iklan pesaing. Konsumen lalu diminta mengutarakan alasan-alasan mereka membeli ataupun tidak membeli. Lalu kemudaian beberapa minggu setelah itu mereka akan diwawancarai kembali melalui telepon untuk menentukan sikap mereka atas produk tersebut, kepuasannya, penggunaannya, dan minatnya untuk membeli kembali, dan ditawari kesempatan untuk membeli kembali produk yang bersangkutan.
c.       Controlled Test Marketing
Metode ini memungkinkan perusahaan untuk menguji pengaruh faktor dalam toko
dan iklan terbatas pada perilaku pembelian konsumen tanpa harus melibatkan konsumen itu sendiri secara langsung. Sampel konsumen akan diwawancarai untuk mendapatkan kesan mereka terhadap produk yang bersangkutan. Perusahaan tidak harus memberikan potongan penjualan, memakai wiraniaga mereka sendiri, atau`membeli jaringan distribusi. Tetapi metode ini tidak dapat memberikan informasi tentang cara membujuk distributor agar mau menjual produk baru perusahaan.
d.       Test Markets
Uji pasar adalah cara utama dalam menguji sebuah produk baru dalam situasi yang
sama dengan yang nantinya akan dihadapi dalam peluncuran produk yang bersangkutan. Perusahaan umumnya akan bekerja sama dengan perusahaan riset dalam menentukan kota dimana wiraniaga perusahaan nantinya akan mencoba membujuk para distributor agar bersedia untuk menjual produk perusahaan. Perusahaan melakuan promosi dan periklanan sama dengan yang akan dilaksanakan dalam pemasaran secara nasional. Biaya yang nantinya dibutuhkan tergantung pada jumlah kota, lama pengujian, serta jumlah data yang diinginkan perusahaan. Melalui uji pasar akan didapatkan beberapa manfaat, diantaranya adalah memberikan prediksi yang dapat diandalkan tentang penjualan dimasa yang akan datang, pengujian awal terhadap rencana pemasaran, mengetahui kekurangan produk,
mendapat gambaran berbagai masalah potensial dalam jaringan distribusi, dan mendapat pemahaman lebih baik mengenai perilaku berbagai segmen pasar. Sementara, produk bisnis juga mendapatkan manfaat dari uji pasar, dimana pengujiannya bervariasi tergantung dari jenis barangnya. Barang industri yang mahal dan memakai teknologi baru pada umumnya menjalani pengujian Alpha dan Beta. Pengujian Alpha ialah pengujian produk dengan tujuan mengukur serta meningkatkan kinerja, rancangan, keandalan, dan biaya operasi produk. Apabila hasil pengujian alpha baik, maka perusahaan akan melanjutkannya dengan melakukan pengujian Beta dengan mengundang para konsumen potensial agar dapat
melaksanakan pengujian secara rahasia ditempat mereka sendiri.Metode uji pasar lainnya ialah memperkenalkan produk bisnis baru dalam pameran dagang. Produk baru industrial juga dapat diuji ditempat pajangan distributor atau dealer. Cara lain yang bisa ditempuh ialah uji pemasaran, dimana perusahaan membuat pasokan produk dengan jumlah terbatas dan diserahkan pada wiraniaga untuk dijual didaerah geografis yang terbatas dengan dukungan katalog, promosi, dan sebagainya. Melalui cara demikian, manajemen akan dapat mempelajari apa saja yang mungkin terjadi dalam pemasaran dengan skala penuh serta memberikan informasi yang lebih lengkap dalam memutuskan komersialisasi produk yang bersangkutan.

Rabu, 27 Juli 2022

 

Cara Membuat Prototype Produk
1.       Membuat diagram rinci atau sketsa
Langkah pertama dalam menciptakan prototipe adalah untuk menciptakan sebuah konsep
sketsa rinci atau diagram. Tujuan Anda harus menangkap ide sebanyak mungkin dengan
cara visual yang idealnya, anda harus memiliki dua sketsa konsep :
    Sebuah sketsa desain yang menunjukkan bagaimana produk mungkin muncul setelah
     selesai
    Sebuah sketsa teknis yang menunjukkan dimensi produk, bahan, dan bekerja.
     Anda dapat menggunakan perangkat lunak untuk melakukan hal ini, tapi pena dan kertas
     kerja yang lebih baik. Anda bahkan dapat beralih ke pena dan kertas gambar-gambar ini
     ketika Anda mengajukan paten. Jangan ragu untuk bereksperimen dan menjadi kreatif
     dalam langkah ini. Kau jauh dari manufaktur pada saat ini; jangan takut untuk mencoba
     hal-hal baru.
2.       Membuat model 3D (optional)
Selanjutnya (optional) Langkah ini untuk mentransfer sketsa konsep Anda ke perangkat lunak pemodelan 3D. Ini akan membantu Anda (dan setiap pihak ketiga seperti investor atau mitra) memvisualisasikan produk yang lebih baik. Anda juga dapat menggunakan model ini untuk membuat salinan cetak 3D prototipe Anda. Manfaat lain dari model 3D adalah bahwa Anda dapat menggunakan aplikasi augmented reality untuk memvisualisasikan itu di dunia nyata. Ini bekerja sangat baik untuk menunjukkan ukuran, bentuk, dan desain sebuah ide produk.
3.       Buat “bukti dari konsep”
Sekarang tiba bagian menyenangkan: benar-benar membangun ide produk. Bagaimana Anda membangun bukti pertama Anda dari konsep akan tergantung pada sejumlah hal. Jika Anda memiliki produk sederhana yang Anda sudah dimodelkan dalam perangkat lunak 3D, Anda hanya bisa mendapatkannya 3D dicetak untuk menciptakan “bukti dari konsep” Anda. Namun, jika Anda memiliki produk yang kompleks dengan sejumlah bagian mekanik atau elektronik, Anda harus berimprovisasi lebih keras. Ingat bahwa bukti dari konsep tidak harus terlihat baik atau bahkan menyerupai produk akhir. Ini hanya harus bekerja. Anda bahkan dapat menggunakan produk rumah tangga biasa untuk membuat model ini tahap awal. Untuk produk yang lebih kompleks, Anda mungkin harus mencari bantuan dari seorang tukang atau masinis.
4.       Buat prototipe pertama Anda
bukti dari konsep menunjukkan bahwa produk Anda bekerja. Model 3D Anda menunjukkan apa yang mungkin terlihat seperti. Langkah anda selanjutnya adalah untuk menggabungkan pelajaran dari bukti konsep dan model 3D untuk membuat prototipe pertama anda. Ini harus menjadi model yang cukup rinci yang terlihat seperti produk akhir Anda dan memiliki fungsi yang sama. Itu tidak selalu mungkin untuk menciptakan detail pertama prototipe ini saja. Tergantung pada kompleksitas, Anda mungkin ingin mendapatkan bantuan dari masinis atau desainer prototipe khusus. Karena ini hanya prototipe pertama, Anda tidak perlu khawatir terlalu banyak tentang jenis bahan yang digunakan atau bahkan biaya. Tujuan Anda adalah untuk mendapatkan model kerja yang menyerupai produk akhir Anda.
5.       Membuat prototipe produksi-siap
Langkah terakhir sebelum Anda sampai ke manufaktur adalah untuk memangkas lemak
dari prototipe pertama Anda dan mendapatkannya untuk negara produksi-siap. Ini pada dasarnya adalah proses biaya dan kelayakan analisis. Anda harus pergi melalui setiap bagian dari prototipe dan mencari cara untuk memotong biaya tanpa mengorbankan fungsionalitas. Pada waktu yang sama, anda harus melihat cara untuk meningkatkan estetika produk atau daya tahan. Misalnya, Anda mungkin mengganti bagian plastik yang sering digunakan dengan logam, dan bagian logam kecil-digunakan dengan plastik. Ini akan membantu Anda memotong biaya sambil tetap mempertahankan kualitas. Ini membantu untuk bekerja dengan produsen dan mencari tahu komponen betapa berbedanya dalam prototipe mungkin berdampak biaya dan kualitas. Anda juga harus melihat bahan baku yang berbeda dan melihat mana yang lebih menyenangkan estetis.
Tujuan Anda harus menemukan keseimbangan antara biaya dan kualitas tergantung pada
target pelanggan Anda. Jika Anda menargetkan pembeli mewah, misalnya, kualitas akan
lebih penting daripada biaya. Untuk pelanggan anggaran, itu akan menjadi sebaliknya.
Tips untuk Ikuti Ketika Membuat Prototype Produk Anda
Prototyping ide dari awal dapat menjadi kompleks, terutama untuk pembuat pertama kali.
Berikut tips ini akan membuat proses lebih halus:
1.       Membuat daftar fitur prioritas
Itu tak terelakkan bahwa produk akhir Anda tidak akan memiliki semua fitur yang Anda
membayangkan di ide asli Anda. Biaya dan bahan kendala berarti bahwa Anda harus
mengurangi beberapa fitur yang mahal. Oleh karena itu, ketika Anda sedang merancang prototipe pertama anda, memisahkan semua fitur dalam tiga kategori :
   Perlu punya : Ini adalah fitur yang Anda benar-benar perlu untuk produk untuk bekerja. Misalnya, “Penyimpanan portabel” akan menjadi fitur kebutuhan untu  dimiliki dalam iPod.
   Baik untuk memiliki : Ini adalah fitur yang akan membantu produk Anda menonjol, tetapi tidak  penting untuk fungsinya. Misalnya, yang “klik roda” adalah baik-untuk-memiliki fitur di iPod. Hal itu membuat iPod lebih mudah untuk digunakan, tetapi itu tidak penting untuk menjalankan nya.
    Tidak dibutuhkan : Ini adalah fitur yang berlebihan untuk produk dan tidak menambahkan banyak di      jalan banding atau utilitas. Sering, fitur ini terlalu mahal untuk diterapkan juga. Anda dapat dengan aman membuang fitur ini di desain Anda. Generasi pertama iPod tidak memiliki “roda klik” karena itu terlalu mahal untuk diterapkan. Cobalah untuk memiliki banyak kebutuhan untuk memiliki fitur mungkin dalam desain akhir Anda.
2.       Masuk NDAs dan paten berkas
Anda pasti akan beralih ke desainer prototipe, masinis, 3D modeler, dll. dalam                            rangka mengembangkan prototipe Anda. Jika ide Anda adalah inovatif, segera Anda dapat            menemukan seseorang menjualnya pada AliExpress untuk harga jauh lebih rendah. Bahkan jika   mereka tidak menyalin ide produk, mereka mungkin menyalin teknik desain atau produksi baru    yang dikembangkan. Untuk melindungi diri Anda dari pencurian kekayaan intelektual, Anda dapat mengambil langkah-langkah berikut:
a)     Mengajukan paten untuk ide produk dan desain.
b)     Meminta semua pihak ketiga untuk menandatangani perjanjian non-disclosure
        (NDAs).
3.       Menjaga biaya dalam pikiran ketika merancang
Salah satu tantangan terbesar dalam menciptakan prototipe adalah menyeimbangkan utilitas dan biaya. Anda ingin produk untuk memenuhi fungsi yang dijanjikan, tetapi Anda juga ingin menjualnya dengan harga yang wajar. Produk yang luar biasa bahwa pelanggan Anda tidak mampu membayar biaya pasti akan gagal. Pada setiap tahap dalam proses desain, tanyakan pada diri sendiri dua pertanyaan:
    Merupakan bagian ini diperlukan?
    Jika ya, apa bahan termurah untuk membuatnya tanpa mengorbankan utilitas?
        Biaya bahan bervariasi, bahkan di antara bahan dalam kategori yang sama (seperti
‘plastik’ atau ‘logam’). Ingatlah hal ini ketika Anda sedang merancang produk Anda.
4.       Gunakan teknik manufaktur standar
Alasan lain untuk biaya overruns antara prototipe untuk produk akhir adalah penggunaan
teknik manufaktur kustom. Pada dasarnya, setiap pabrik yang membangun produk Anda
akan menggunakan beberapa proses manufaktur standar industri (seperti “injeksi”). Jika
produk Anda tidak dapat diproduksi menggunakan mereka, pabrik harus membuat teknik
disesuaikan dan melatih staf untuk menggunakannya. Hal ini dapat menambah secara
substansial terhadap biaya produksi, terutama jika Anda manufaktur dalam batch kecil.
Oleh karena itu, ketika Anda sedang merancang prototipe Anda, tetap menutup mata pada
jenis proses manufaktur masing-masing bagian akan membutuhkan. Jika fitur membutuhkan teknik produksi sangat disesuaikan, mempertimbangkan menghapus itu. Seorang desainer prototipe atau masinis harus dapat membantu Anda mencari tahu ini.
5.       Meminjam ide dari pesaing
Membongkar produk pesaing Anda dapat memberikan pemahaman rinci tentang apa yang
bekerja, apa yang tidak ketika membuat suatu produk. Ini bisa menjadi bantuan besar
dalam merancang ide Anda sendiri. Oleh karena itu, sebelum Anda mulai membuat prototipe Anda, mengambil melihat dari dekat produk pesaing Anda. Menganalisis bahan mereka, desain, dan teknik manufaktur.

Selasa, 26 Juli 2022

 

PENGERTIAN PERENCANAAN PRODUKSI MASSAL
Perencanaan produk adalah proses menciptakan ide produk dan menindaklanjuti sampai produk diperkenalkan ke pasar. Selain itu, perusahaan harus memiliki strategi cadangan apabila produk gagal dalam pemasarannya. Termasuk diantaranya ekstensi produk atau perbaikan, distribusi, perubahan harga dan promosi. Kesuksesan ekonomi suatu perusahaan manufaktur tergantung kepada kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, kemudian secara cepat menciptakan produk yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan biaya yang rendah. Hal ini bukan merupakan tanggung jawab bagian pemasaran, bagian manufaktur, atau bagian desain saja, melainkan merupakan tanggung jawab yang melibatkan banyak fungsi yang ada di perusahaan. Metode pengembangan produk berdasarkan kepada permintaan atau persyaratan serta spesifikasi produk oleh customer adalah metode yang cukup baik, karena dengan berbasis keinginan customer maka kemungkinan produk tersebut tidak diterima oleh customer menjadi lebih kecil. Dari sudut pandang investor pada perusahaan yang berorientasi laba, usaha pengembangan produk dikatakan sukses jika produk dapat diproduksi dan dijual dengan menghasilkan laba.Namun laba seringkali sulit untuk dinilai secara cepat dan langsung. Terdapat 5 dimensi spesifik yang berhubungan dengan laba dan biasa digunakan untuk menilai kinerja usaha pengembangan produk, yaitu:
1)       Kualitas Produk
Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan dan dapat memuaskan
kebutuhan pelanggan. Kualitas produk pada akhirnya akan mempengaruhi pangsa pasar
dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh pelanggan.
2)       Biaya Produk
Biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya produksi setiap unit disebut biaya
manufaktur dari produk. Biaya produk menentukan berapa besar laba yang dihasilkan
oleh perusahaan pada volume penjualan dan harga penjualan tertentu.
3)       Waktu Pengembangan Produk
Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan dalam
berkompetisi,menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan teknologi dan
pada akhirnya akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima pengembalian
ekonomis dari usaha yang dilakukan tim pengembangan.
4)       Biaya Pengembangan
Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen yang penting dari
investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit.
5)       Kapabilitas Pengembangan.
Kapabilitas pengembangan merupakan asset yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk
mengembangkan produk dengan lebih efektif dan ekonomis dimasa yang akan datang

Senin, 25 Juli 2022

 

Pengertian Biaya
Biaya adalah pengeluaran ekonomis yang diperlukan untuk perhitungan proses produksi.
Biaya ini didasarkan pada harga pasar yang berlaku dan pada saat proses ini sudah terjadi
maupun belum terjadi. Menurut ilmu ekonomi, biaya terbagi menjadi dua yaitu biaya eksplisit
dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya-biaya yang terlihat secara fisik seperti uang.
Sedangkan biaya implisit adalah biaya-biaya yang tidak terlihat secara langsung yaitu
misalnya penyusutan barang modal.
Pengertian Biaya Produksi
Biaya produksi adalah akumulasi dari semua biaya-biaya yang dibutuhkan dalam proses
produksi dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk atau barang. Biaya-biaya ini
meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional barang / pabrik, dan lain
sebagainya. Biaya produksi ini harus diakumulasi secara cermat untuk kemudian dihitung dan
dibandingkan dengan laba kotor perusahaan. Selisih pendapatan dikurangi dengan biaya
produksi akan menjadi laba bersih perusahaan atau total keuntungan yang diperoleh. Biaya
produksi ini diperlukan untuk mendukung proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi
yang siap dipasarkan kepada konsumen.
Biaya produksi adalah keseluruhan biaya produksi ekonomi yang dibutuhkan dalam
kegiatan produksi suatu barang. Biaya produksi ini memiliki definisi yang berbeda dengan
biaya operasional. Bedanya dengan biaya operasional adalah biaya operasional merupakan
biaya atau pengeluaran oleh suatu perusahaan untuk mendukung sistem kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Yang termasuk kedalam biaya operasional adalah seperti biaya perlengkapan toko, biaya
asuransi, biaya tagihan telepon / listrik / air untuk perusahaan, biaya iklan, biaya pajak, biaya
pengiriman, biaya perlengkapan kantor, biaya perawatan alat-alat kantor / perusahaan atau
biaya perawatan mesin, dan lain sebagainya. Dalam memproduksi suatu barang tentunya
diperlukan sebuah proses produksi yang panjang dan terencana dengan baik demi untuk
menciptakan suatu produk yang benar-benar berkualitas.
Biaya Produksi dan Biaya non Produksi
Biaya produksi berbeda dengan biaya non produksi. Perbedaannya adalah biaya non
produksi merupakan biaya yang erat kaitannya dengan fungsi pengembangan, pemasaran /
distribusi, layanan pelanggan, desain maupun administrasi pada umumnya. Menurut ilmu
ekonomi, biaya non produksi dapat dibagi kedalam dua kategori yakni biaya penjualan yang
melingkupi tentang biaya pemasaran / distribusi, dan pelayanan kepada pelanggan. Serta yang kedua adalah mengenai administrasi yang melingkupi biaya pengembangan, adminitrasi
umum dan pengembangan.
Teori Biaya Produksi Oleh Adam Smith
Lakukan Perhitungan dan Kontrol Biaya Produksi.
Berikut akan diberikan contoh-contoh perhitungan dalam menghitung biaya produksi.
Diantaranya adalah analisa biaya produksi serta laporan biaya produksi.
1) Analisa Biaya Produksi
Untuk menghitung Biaya Tetap Total / Total Fixed Cost (TFC) adalah dengan cara
menambah Biaya Tetap / Fixed Cost (FC) dengan Biaya Variable / Variable Cost (VC).
Biaya total (TFC) adalah keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan
untuk membeli semua keperluan baik barang dan jasa yang akan digunakan dalam proses
produksi demi menghasilkan / produksi suatu barang. Total fixed cost dihitung untuk
memperoleh faktor produksi yang tidak dapat berubah jumlahnya.
1. Biaya Variabel Total / Total Variable Cost (TVC) adalah keseluruhan biaya yang
    dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi variabel.
2. Cara menghitung Biaya Tetap Rata-rata / Average Fixed Cost (AFC) adalah dengan
    cara biaya total dibagi dengan jumlah produksi.
3. Cara menghitung Variabel Rata-Rata / Average Variable Cost (AVC) adalah dengan
    cara membagi Biaya Variabel Total (TVC) dengan jumlah produksi.
4. Cara menghitung Biaya Total Rata-Rata / Average Total Cost (AC) adalah dengan
    cara Biaya Total dibagi dengan jumlah produksi.
5. Biaya Marginal / Marginal Cost (MC) diperoleh melalui hasil penambahan Biaya
    Produksi yang digunakan untuk menambah produksi satu unit barang / produk.
2) Buat Laporan Biaya Produksi
Laporan biaya produksi disebut pula sebagai laporan harga pokok produksi. Perhitungan
laporan biaya produksi ini mengutamakan perhitungan 3 hal yaitu :
1. Data produksi. Dimana harus dibuat pelaporan mengenai rincian jumlah produk yang
    melalui proses pembuatan, jumlah produk yang telah selesai diproduksi, serta
    keseluruhan jumlah produk yang dihasilkan dari awal sampai akhir dalam satu
    periode.
2. Biaya yang dibebankan. Dimana harus dibuat pelaporan mengenai rincian harga
    satuan per produk / per barang yang didalamnya telah meliputi biaya bahan baku,
    biaya tenaga kerja, dan overhead pabrik.
3. Perhitungan harga pokok. Dimana harus dibuat pelaporan mengenai rincian harga
    pokok ketika produk telah selesai diproduksi, dan memasuki departemen produksi,
    hingga memasuki gudang penempatan produk yang telah selesai diproduksi

Sabtu, 23 Juli 2022

        Tahapan-Tahapan Kegiatan Desain Produk
Seorang product designer harus melalui tahapan-tahapan dalam merencanakan suatu produk,
tahapan tersebut yaitu : 

 

a.        Memformulasikan hasil marketing research
Adapun yang menjadi titik tolak dalam tahapan kegiatan Desain Produk adalah riset
pemasaran. Untuk mengetahui produk yang diinginkan pelanggan, product designer dapat
memperoleh data dari riset pemasaran yang langsung berhubungan dengan pelanggan.
Riset ini dilakukan baik untuk produk yang betul-betul baru maupun untuk produk yang
sudah ada.
Pengembangan suatu riset dalam perusahaan akan menghasilkan sebuah gagasan atau ide
untuk membuat suatu produk, dimana ide tersebut diperoleh dari data yang didapatkan
saat riset itu sendiri dilakukan.
Dalam riset pembuatan produk baru atau pengembangan produk yang sudah ada,
perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
Keinginan pelanggan dalam hal kegunaan, kualitas, modal dan warna dari produknya
denga tidak mengabaikan penentuan harga
Biaya dari pembuatan produk baru atau pengembangan dari produk yang sudah ada
apakah perusahaan mampu untuk membayarnya.
Untuk hal-hal tersebut di atas, maka riset ini perlu ditunjang dengan factor-faktor yang
berupa waktu untuk menjalankan penelitian, mencari informasi atau keterangan
berdasarkan pengalaman.
b.       Mempertimbangkan kemampuan fasilitas perusahaan
Untuk melaksanakan kegiatan pembuatan suatu produk, maka desainer harus
mempertimbangkan kemampuan dari perusahaan itu sendiri, diantaranya : tenaga kerja,
mesin-mesin, peralatan penunjang dan perkakas lainnya. Dalam membuat produk,
desainer harus mempertimbangkan biaya yang seekonomis mungkin.
c.       Membuat sketsa
Dalam membuat sketsa, bentuk dari produk yang akan dibuat akan terlihat jelas satu
dengan yang lainnya. Sketsa tersebut dibuat untuk mempermudah dalam pembuatan
gambar kerja ( blue Print ), sketsa dari masing – masing produk walaupun sketsa ini tidak
menunjukan ukuran – ukuran yang sebenarnya, tapi dapat terlihat dal skala perbandingan.d) Membuat gambar kerja
Pembuatan gambar kerja ini adalah merupakan tahap akhir dalam kegiatan Desain
Produk, dimana dalam gambar kerja ini dapat digambarkan bentuk dan ukuran yang
sebenarnya dengan skala yang diperkecil. Selain itu, dalam gambar kerja juga
diperlihatkan bahan – bahan yang akan dipergunakan dalam pembuatan produk tersebut.
Setelah gambar kerja tersebut selesai dirancang, kemudian diserahkan kepada pelaksana
kegiatan untuk segera dipelajari dan dikerjakan lebih lanjut cara proses produksinya.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Desain Produk
Faktor-faktor yang mempengaruhi desain produk adalah sebagai berikut :
a.       Fungsi Produk
Setiap produk yang akan dihasilkan mempunyai fungsi atau kegunaan yang berbeda, hal
ini tergantung untuk keperluan apa produk itu dibuat. Dengan demikian bahwa desain
produk itu berhubungan bentuk dan fungsi dari suatu produk. Keduanya memegang
peranan penting dalam menentukan suatu desain produk yang pada dasarnya untuk
memberikan kepuasan yang maksimal bagi konsumen atau pelanggan baik segi kualitan
maupun segi kuantitas.
b.       Standar dan Spesifikasi Desain
Dalam hal spesifikasi dan standar desain suatu produk akan terlihat dari :
    Sambungan-sambungan, dalam hal ini perusahaan harus merencanakan bagaimana
     menyambung bagian-bagian supaya tidak terlihat ada bagian yang kosong.
    Bagian, bagian ini berfungsi untuk menyesuaikan ukuran keserasian
     desain disambung dengan bagian lainnya, sehingga apabila disatukan menjadi satu
     kesatuan yang kuat
    Bentuk, pada waktu mendesain bentuk perlu diperhatikan mengenai keindahan
     dengan penyesuaian menurut fungsi dan kegunaannya.
    Ukuran, yaitu merencanakan ukuran yang seimbang dari bagian – bagian
     produk secara keseluruhan.
    Mutu, mutu suatu produk harus disesuaikan menurut fungsi produk tersebut, apabila
     akan digunakan dalam jangka waktu lama, maka mutu produk tersebut harus tinggi
     bila dibandingkan dengan produk yang akan digunakan dalam jangka waktu yang
     pendek.
    Bahan, apabila produk yang akan digunakan ingin mempunyai mutu yang baik, maka
     bahan yang dipergunakan pun harus dapat menunjang agar semua yang diharapkan
     dapat terwujud dan pelanggan merasakan kepuasan tersendiri.
    Warna, warna mempunyai arti tersendiri bagi konsumen, karena tiap orang
     mempunyai ciri dan kesukaan yang khas terhadap warna tertentu. Dan hal inilah yang
     harus dicermati oleh perusahaan agar dapat bersaing dengan perusahaan lain yang
     sejenis.
c.       Tanggungjawab Produk
Ini adalah merupakan salah satu tanggung jawab dari produsen sebagai pembuat produk
kepada konsumen akan keselamatan dan kenyamanan pemakai produk tersebut. Oleh karena itu faktor ini menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan oleh perusahaan pada
waktu mendesain produk tersebut.
d.       Harga dan Volume
Harga dihubungkan dengan jumlah produk yang akan dibuat, untuk produk yang akan
dibuat berdasarkan pesanan biasanya harga jualnya akan berbeda dengan produk yang
dibuat untuk dipasakan kepada konsumen luas yang harganya relatif lebih murah
sehingga desain produknya akan berbeda pula.
e.       Prototype
Prototype merupakan model produk yang pertama yang akan dibuat, prototype ini
memperlihatkan bentuk serta fungsi yang sebenarnya, sehingga sebelum perusahaan
memproduksi maka prototype diusahakan untuk dibuat terlebih dahulu.
Dari pengujian prototype tersebut, apabila lulus uji coba mungkin memberikan gambaran
mengenai perubahan-perubahan yang perlu dilakukan serta sebagai informasi dalam
penyusunan terakhir desain produk.
Alur Dan Proses Kerja Pembuatan Prototype Produk Barang/Jasa
1.       Diagram Alur Proses Produksi (Production Flow Chart Diagram)
Diagram alur proses produksi ini harus dibuat secara jelas terlebih dahulu sebelum suatu
proses produksi dijalankan. Berdasarkan diagram alur proses produksi tersebutlah pengetesan
dan monitoring atas barang dalam proses produksi (work in process) harus dilakukan agar
produk akhir bermutu sesuai dengan rencana. Seandainya timbul variasi mutu pun, tingkat
toleransinya dari penyimpan masih dalam batas-batas yang dapat diterima. Artinya, melalui
tes-tes pada berbagai tahapan proses produksi harus dilakukan agar bila terjadi komponen atau
barang yang cacat (defect) dapat segera diketahui untuk segera ditindak lanjuti. Masing
masing jenis industri manufaktur mempunyai diagram alur proses produksi yang berbeda satu
sama lain karena produk yang harus dihasilkan berbeda. Bahkan untuk produk yang sejenis
pun, diagram alur proses produksinya belum tentu persis sama karena masing-masing
mempunyai ciri khas atau spesifikasi sendiri-sendiri.
Diagram alur proses produksi yang berbeda produk, misalnya diagram alur proses produksi
tekstil sama sekali berbeda dengan diagram alur proses produksi pembuatan obat-obatan
(farmasi). Akan tetapi, walaupun sama-sama industri manufaktur farmasi (obat-obatan),
diagram alur proses produksinya dapat berbeda, misalnya yang satu berbentuk tablet,
sedangkan yang lain berbentuk cair.
2.       Prosedur pengawasan mutu produk
Pengawasan atas mutu suatu barang hasil produksi, seyogyanya meliputi pengetahuan hal-hal berikut :
1)     Kerusakan dan Mutu Produk
        Seperti telah dijelaskan bahwa suatu barang (jasa) dibuat melalui suatu proses. Proses
        pembuatan tersebut disesuaikan dengan bentuk dan mutu barang yang ingin                         dihasilkan.
2)     Mencegah atau Menghindarkan Terjadinya Kerusakan Barang (produk)
        Kiat utama dari pencegahan kerusakan suatu produk sebenarnya sangat sederhana                saja,yakni kerusakan harus dicegah sebelum terjadi.
3)     Kendali Mutu TerpaduUraian di atas menunjukkan bahwa mencegah terjadinya                    kerusakan produk selama proses
        produksi, berarti mengadakan suatu rangkaian kegiatan terpadu dalam pengendalian
        mutu. Bila ada pengendalian atau controlling atas mutu tentunya harus dimulai sejak
        perencanaan (planning) mutu produk bersangkutan. Antara tahap perencanaan dan                tahap
        seperti pengorganisasian (organizing) dan pelaksanaan (actuating) harus disertai
        pengawasan mutu. Hal ini memberi gambaran bahwa manajemen mutu (quality
        management) meliputi berbagai apsek keikutsertaan (participation) dari berbagai                pihak di dalam perusahaan yang menghasilkan suatu produk yang mutunya harus                dikendalikan.
Jenis-jenis pengawasan mutu produk
1)     Pemantauan Mutu Bahan-Bahan
        Apakah bahan baku yang digunakan sesuai dengan mutu yang direncanakan? Hal ini
        perlu diamati sejak rencana pembelian bahan, penerimaan bahan di gudang,                       penyimpanan di gudang, sampai dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan.
2)     Pemantauan Proses Produksi
        Bahan baku yang telah diterima di gudang, selanjutnya akan diproses dalam mesin-           mesin produksi untuk diolah menjadi barang jadi. Dalam hal ini, selain cara kerja                peralatan produksi yang mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kera mesin-mesin         tersebut dipantau agar menghasilkan barang sesuai yang direncanakan.
3)     Pemantauan Produk Jadi
        Pemeriksaan atas hasil produksi jadi untuk mengetahui apakah produk sesuai dengan
        rencana ukuran dan mutu atau tidak. Sekaligus untuk mengetes mesin yang mengolah
        selama proses produksi. Bila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk,
        ukuran, dan mutu yang direncanakan maka produk-produk tersebut dapat                            digudangkan. Selanjutnya dipasarkan (didistribusikan). Namun bila terdapat barang            yang cacat maka barang tersebut harus dibuang atau remade dan mesin perlu disetel            kembali agar beroperasi secara akurat.
4)     Pemantauan Pengepakan
        Bungkus dapat merupakan alat untuk melindungi barang agar tetap dalam kondisi                sesuai dengan mutu.
3.       Pemecahan masalah mutu dengan statistik
Metode statistik diketahui telah digunakan sejak lama dalam rangka membantu perusahaan
dalam masalah tertentu yang kompleks. Walaupun demikian, metode statistik sebenarnya
mempunyai ketentuan tertentu dalam pelaksanaannya. Suatu hal yang perlu diketahui adalah
bahwa dalam industri ternyata statistik merupakan salah satu alat untuk pengendalian mutu,
termasuk dalam pencegahan kerusakan barang (defect prevention).
Alasan digunakan metode statistik dalam pengawasan mutu adalah sebagai berikut :
    Menghitung jumlah kerusakan barang dalam proses produksi.
    Kerusakan atau cacatnya barang, sebenamya merupakan akibat terjadinya penyimpangan (variasi atau deviasi) dalam proses produksi. Metode statistik dapat memberi gambaran tentang penyimpangan-penyimpangan tersebut.
Misalnya, produk yang dihasilkan dari suatu proses yang tidak mengalami penyimpangan
(deviasi), tentu saja produk tersebut tidak mengalami kerusakan. Akan tetapi, mengingat proses produksi merupakan kombinasi mesin-mesin dan orang-orang maka bisa terjadi
kekeliruan sehingga produk yang dihasilkan mengalami penyimpangan (deviasi). Dalam hal yang terakhir inilah peranan statistik untuk mengurangi terjadinya penyimpangan, yang berarti pula mengurangi kerusakan produk akhir. Secara umum dari metode statistik dapat diperoleh suatu gambaran tentang data sampel yang dianalisis. Gambar tersebut dapat memberikan visualisasi dengan jelas tentang data tersebut sehingga dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan (kerusakan) atau tidak. Dari hal pengendalian mutu, peranan seorang supervisor mutu sangat berperan terutama dalam hal mengumpulkan data statistik, menganalisis, dan menyimpulkannya. Seorang supervisor mutu dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada pihak manajemen tentang hasil produk, apakah di bawah atau sesuai dengan standar mutu yang direncanakan.
4.       Alat kendali mutu
Dengan Statistic Quality Control diperoleh alat bantu kendali mutu berupa diagram dan
histogram.
a)     Diagram Pengendati Mutu (Quality Control Chart)
Dari tiap jenjang dalam DAP, Anda, dapat membuat suatu rencana kerja pemantauan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan mutu yang direncanakan. Pada tahap ini    Anda, membuat suatu control chart (diagram pengendali) yang dapat digunakan untuk memperoleh gambar atau diagram sebab akibat (DSA) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Cause and Effect Diagram (CED).
b) Histogram
Dari diagram kontrol (diagram kendali) yang dik:umpulkan secara statistik pada berbagai tahap atau jenjang kegiatan, Anda, kemudian dapat membuat suatu histogram mutu. Bila terdapat penyimpangan, Anda akan mengetahui berapa besar penyimpangannya dan faktor apa yang menyebabkannya. Selanjutnya, mungkin perlu dibuat suatu tindakan koreksi atau. perbaikan.
c) Peranan Komputer
Secara umum dapat dikemukakan di sini bahwa berbagai kegiatan pengendalian, terutama pada perusahaan besar, seyogianya menggunakan program komputer sesuai dengan kebutuhan. Tetapi, patut Anda ketahui bahwa komputer hanyalah merupakan alat bantu analisis. Adapun faktor yang penting dalam pengendalian mutu, adalah manusia.